Senin, 29 April 2013

Milika (Adakah Yang Salah Dengan Cintaku?) Part1

Diposting oleh desty anjar di Senin, April 29, 2013


Milika kembali memandangi lelaki yang ada di hadapannya setelah sekian lama mata dan pikirannya entah berada dimana. Ia mulai tersenyum dengan lelaki yang sedari tadi  tak berhenti bercerita dan mencoba membuatnya tertawa dengan guyonannya yang sebenarnya garing menurutnya. Tak lama kembali pikirannya meninggalkan lelaki itu, ia mulai asik memperhatikan mendung yang tak lama kemudian menurunkan hujan. Milika memang gadis yang menyukai saat dimana hujan turun, menurutnya hujan mampu menutupi kesedihan hatinya saat ia merindukan seseorang. Di bawah hujan ia mampu dengan lega menangis saat hatinya tersiksa rindu dengan seseorang, di antara suara hujan pula ia dapat dengan mudah berteriak memanggil nama orang yang dirindukannya.
Tapi kali ini Milika tak lagi merindukan seseorang, baginya hujan kali ini sekaligus membawa kenangan buruk yang telah membuatnya jatuh dan sulit untuk kembali bangkit. Satu nama yang ada dipikirannya kala itu, Christa. Sudah hampir dua tahun tak lagi didapatinya kabar tentang Christa, lelaki yang dulu sempat mengisi hatinya, dalam sangat dalam ia menyimpan nama itu hingga mengeluarkannya dari hatipun sulit.  “Apa kabarnya ya? Apakah dia bahagia dengan hidupnya yang baru? Semoga..” batin Milika.
Hujan di luar semakin deras, suara lelaki di depan Milika pun tak lagi terdengar tertutup derasnya nyanyian hujan sore itu. Kembali angan Milika pergi jauh meninggalkan lelaki itu dan terbang bersama masa lalunya.
Dua tahun yang lalu selepas Milika menuntaskan Sekolah Menengah Atasnya ia mulai mengenal Christa lelaki yang selama ini tak lagi ia dapatkan kabarnya. Christa yang pertama kali ia kenal dari jejaring social Facebook adalah sepupu dari teman lamanya di waktu Sekolah Menengah Pertama. Entah siapa yang mulai sejak perkenalan melalui Facebook yang berujung dengan saling tukar menukar nomor handphone mereka menjadi dekat dan memutuskan untuk berpacara. Konyol memang kenal hanya sebatas dunia maya bisa saling jatuh cinta dan menjalin hubungan relationship, Milika kembali membatin. Christa bukanlah lelaki yang sempurna, bahkan kalo boleh jujur tak ada salah satu criteria lelaki idaman Milika yang ada di dirinya. Yah, namanya juga cinta kata orang bukankah cinta itu buta? Mungkin ini yang Milika rasakan kepada Christa, matanya dibutakan perhatian dan kata manis serta humorisnya lelaki yang ternyata memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda dengan Milika.  Mungkin inilah salah satu penghambat yang ada selama hubungan mereka berjalan. Awalnya Christa memang tampak ragu menjalani hunungan ini denga Milika, karena baginya perbedaan ini tidak akan menemukan titik terang. Apalagi keluarga Christa sangat teguh dengan Agama mereka.
“Hey, sudahlah tak usah memikirkan hal itu yang terpenting saat ini aku sayang kamu dan kamu sayang aku. Aku tak ingin berandai – andai terlalu jauh yang nantinya akan membuatku sakit lebih awal. Aku bahagia dengan keadaan ini dan aku ingin menikmatinya sepuas hatiku tanpa harus aku memikirkan sesuatu yang akan membuatku terjatuh dan sakit” kalimat inilah yang selalu menjadi andalan Milika di saat Christa mulai lelah menjalani hubungan mereka.
Tetapi kata – kata itu tak lantas dapat meluluhkan kebimbangan hati Christa. Lambat laun lelaki itupun mulai menyerah dengan keadaan. Setelah hampir dua bulan bertahan dengan perbedaan akhirnya mereka pun berpisah dengan alasan yang dibuat Christa saat itu adalah ‘Aku ini anak laki – laki satu – satunya dikeluarga ku, apa jadinya keluargaku kelak kalau aku tidak dapat mempertahankan keyakinan yang mereka berikan sejak lahir padaku?’
Mau tak mau Milika pun setuju dengan keputusan yang Christa berikan meskipun berkali – kali ia harus menangis, memohon dan meminta untuk kembali memperjuangkan hubungan itu.
“Please, aku nggak bisa tanpa kamu. Aku mulai terbiasa dengan adanya dirimu dihariku” isaknya kepada Christa.
“Aku nggak bisa Ndud, aku sulit. Maafkan aku jika aku harus menyakitimu secepat ini, aku pun sama sepertiku hatiku juga sakit. Aku harus meninggalkan wanita yang sebenarnya sangat aku cintai” jelas Christa. Ndud adalah panggilan sayangnya untuk Milika.
“Kalo kamu cinta aku, kenapa kamu ninggalin aku? Kita bisakan membicarakan ini kembali? Please percaya sama cinta kita ya. Atau aku ikut kamu aja? Aku bener – bener nggak siap tanpa kamu. Aku ikut kamu ya? Ijinin aku ikut kamu.” Rengek Milika kepada Christa kala itu.
Entah setan apa yang memasuki tubuh Milika saat ia berkata ‘aku ikut kamu ya?’ mungkin cinta lagi – lagi membutakan mata hatinya sampai ia rela meninggalkan Tuhannya demi lelaki yang sebenarnya belum tentu akan menjadi jodohnya.
“Enggak Ndud, enggak ada yang pindah. Baik kamu ataupun aku kita tetap pada Tuhan kita masing – masing. Yang aku kenal sejak lahir hanya Tuhan Yesus dan sampai nafas ini berhenti posisiNya tak akan berubah. Dia tetap Tuhanku dan aku tak akan meninggalkanNya karena Dia tak pernah meninggalkan ku Ndud. Maafkan aku, meskipun kita berpisah percayalah tak mudah untuk mencari pengganti sepertimu.” 
Penjelasan panjang dari Christa mungkin membuat Milika sedikit mengerti tetapi tetap saja hati kecilnya tak pernah mengikhlaskan keadaan seperti ini. Dalam hatinya Milika tak hentinya bertanya dan seakan mulai menyalahkan Tuhan atas situasi yang sedang dihadapinya kala itu.
‘Tuhan kenapa kami harus mengenalmu dengan Nama Yang Berbeda? Kenapa kami harus mengenal-Mu dengan cara yang berbeda? Mengapa Engkau biarkan kami memuja-Mu dengan cara yang berbeda pula? Kenapa Tuhan? Bukankah Di Ayat Suci-Mu Engkau pernah Berfirman agar kami tak saling membedakan satu dan yang lainnya, lantas kenapa Kau membuat perbedaan ini semakin jelas Tuhan? Buat apa Engaku membuat kami berbeda jika pada dasarnya kami harus mengakui-Mu Satu, Kenapa? Jawab Tuhan!!! Jangan biarkan aku membenci-Mu karena aku tak juga mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini Tuhan.’

0 komentar:

Posting Komentar

 

DESNDESTY Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea